REVITALISASI GERAKAN PRAMUKA(Suatu Renungan dan Gagasan pribadi)

kelapa dawegan

REVITALISASI GERAKAN PRAMUKA

REVITALISASI GERAKAN PRAMUKA

(Suatu Renungan dan Gagasan pribadi)

I. PENDAHULUAN

Pada tahun 2006 saat Presiden RI meresmikan Jambore Nasional di Buper Mashudi Kiara Payung, Sumedang, kita diminta melakukan revitalisasi terhadap Gerakan Pramuka. Sebenarnya telah sejak lama ada semacam filling dikalangan Pembina Pramuka bahwa ada sesuatu di dalam pelaksanaan sistem pendidikaan kepanduaan ini yang belum pas. Saya sebagai Pembina Pramuka yang bergerak di lapangan merasa tersendat bahkan sering merasa kecewa. Sementara sebagian kelompok Pembina Pramuka lainnya tidak merasakan adanya sesuatu yang mengganjal. Maklum, mereka adalah orang-orang baru yang sedang mencari jati diri kepramukaan. Kondisi kepramukaan yang dirasa kurang pas itu penyebabnya sangat banyak dan hal itu akan saya uraikan nanti.

Pasang surut perjalanan hidup organisasi itu hal biasa. Dulu pernah tiap Andalan Cabang dibekali sebuah stempel. Di lingkungan Kwarcab ada stempel Antutra, stempel Antupi, stempel Antuliti, stempel Antusek dll. Sebut saja ini semacam era coba-coba dalam rangka mencari jati diri. Kini di Kwarcab hanya ada satu stempel. Dulu kita mengenal istilah Giat Ops, istilah Tekpram, istilah PDMPK dll. Kini istilah itu sudah tak lagi digunakan. Penggantian demi penggantian dan perubahan demi perubahan itu dilakukan dalam rangka upaya pemahaman tentang sosok perkumpulan ini. Ada yang mengira perkumpulan kita ini suatu organisasi pemuda sementara dimata orang-orang Belanda dimasa penjajahan dulu digolongan sekadar sebagai Spell Organisatie (organisasi bermain) semacam Kinder Garten atau Out Bond saja. Maka pada awalnya pihak Pemerintah Hindia Belanda membiarkan saja tumbuhnya perkumpulan-perkumpulan kepanduan kalangan pribumi berkembang. Tapi kita belajar dari sejarah bahwa akibat gagalnya konferensi padvinder pada tahun 1925 dan 1926 di Yogyakarta akhirnya Pemerintah Kolonial melarang penggunaan istilah “padvinder” bagi kelompok pribumi. Maka tambah lagi pengetahuan mereka bahwa kepramukaan bukan semata-mata kinder garten. Tetapi merupakan pendidikan pendahuluan bela negara dimana tokoh-tokoh nasionalis berkamouflase dengan aman dan nyaman tanpa dicurigai dan diawas-awasi oleh pemerintah Hindia Belanda.

Dan sampai hari ini kiranya masih banyak orang yang belum menemukan jatidiri kepramukaan yang sesungguhnya. Maka inilah agaknya pokok pangkal yang melahirkan aneka macam aturan atau PP yang tidak membumi sejak dari awal berdirinya Gerakan Pramuka sampai kini. Coba saja kita baca ulang seluruh PP yang ada. Mana yang betul-betul pas dengan dunia kepanduan dan mana yang melantur-lantur jauh meninggalkan home base-nya. Banyak pimpinan Kwartir tekun Mem-file dan merawat, mempelajari dan menghafal aneka macam PP yang sangat menyita kesempatan bertemu dan bermain dengan anak-anak di lapangan. Sementara di tingkat Kwarran dan Gudep, PP itu cuma diartikan secara letterlijk untuk menggolkan maunya. Apalagi kalau Jajaran Gerakan Pramuka yang lebih tinggi ikut-ikutan mengeksploitasi PP jadilah Gerakan Pramuka kelak seperti kondisi saat VOC dinyatakan Gulung Tikar oleh Pemerintah Kerajaan Belanda pada tanggal 31 Desember 1799. Yaitu kondisi unmanagable dimana setiap Jajaran punya kebijakan sendiri-sendiri akibat tidak punya pemahaman secara mendasar, belum pernah mengalami sendiri dan punya maksud terselubung yang biasanya melanggar kode kehormatan dunia kepanduan.

II. GUGUSDEPAN GERAKAN PRAMUKA

Gugusdepan Gerakan Pramuka itu independen.

Gugusdepan Gerakan Pramuka itu ada 2 (dua) macam. Yakni Gudep Putra dan Gudep Putri. Anggota Muda yang tercatat di suatu Gudep terbagi menjadi 3 (tiga) golongan, sebagai Gudep Lengkap. Yang hanya terdiri atas dua atau satu Golongan pun bisa disebut Gugusdepan.

Gugusdepan Gerakan Pramuka (Lengkap) terdiri atas :

1. Golongan “Pramuka” Siaga tiap 6 (enam) anak disebut Barung. Dan tiap 4 (empat) Barung disebut Perindukan. Jumlahnya 24 orang.

2. Golongan Pramuka Penggalang, tiap 8 anak disebut Regu. Regu-regu masuk menjadi satu Pasukan. Jumlah anggotanya 32 anak.

3. Golongan Pramuka Penegak tergabung kedalam Ambalan yang terdiri atas 4 (empat) Sangga, masing-masing beranggotakan maksimal 8 orang.

Gugusdepan Gerakan Pramuka sebagai suatu badan pendidikan kepanduan satu-satunya yang memiliki perangkat kerja spesifik yaitu yang digunakan para Pembina Gudep untuk mencetak anak-anak dan remaja menjadi pramuka. Maka tanpa adanya Gugusdepan tak akan terlahir sosok pramuka. Tetapi jika Gugusdepan tanpa perangkat kerja serta tidak menerapkan sistem pendidikan kepramukaan yang benar maka mutu produknya kurang berbobot.

Sekarang, di tahun 2008, dimana ada Gugusdepan lengkap? Kalaulah ada, berapa persen dari jumlah seluruh Gudep yang ter-registrasi? Berapa banyak Gudep di Indonesia yang secara mandiri dan leluasa menerapkan Prinsip-prinsip Dasar Kepramukaan dan menerapkan Metode kepramukaan secara penuh? Kalau terlalu banyak dan nyaris tidak ada Gudep mampu menerapkan PD dan MK dan itu sudah bejalan terlalu lama maka mutu Anggota Muda dipastikan tak seberapa.

Untuk melihat kemajuan dunia kepanduan di satu daerah pada suatu masa cukup mengamati status dan perkembangan Gugusdepan-Gugusdepan yang ada. Maka dari sini pula konsep dasar revitalisasi itu diberangkatkan. Pertanyaannya, mengapa perlu revitalisasi? Jawabannya antara lain karena banyak yang tidak memahami letak titik paling krusial dalam menjalankan tugas pokok perkumpulan ini.

III. BIBIT MASALAH

Sesungguhnya Gugusdepan itu bukan satu-satunya penyebab mengapa revitalisasi harus dilakukan. Bahkan dalam banyak hal Gudep itu justru kewalahan atas berbagai kebijakan yang dilakukan oleh Kwartir. Apalagi kalau Gudep sekadar agen untuk menyalurkan tenaga kerja membantu program kerja suatu instansi dengan dalih Satuan Karya Pramuka (Saka). Program Latihan Mingguannya saja belum sempat lancar, Ujian SKU juga belum dimulai tiba-tiba Ambalan diminta mengirim anggotanya. Maka jadilah kondisi acak-acakan dan kerja asal-asalan. Belum lagi perangkat-perangkat lain yang secara kepontal-pontal mengejar deadline karena keburu nafsu mengejar target. Mari kita inventarisir :

A. Sampai sekarang masih banyak Pembina Pramuka yang belum pernah menjadi peserta didik baik Pramuka Siaga, Penggalang maupun Pramuka Penegak. Kebanyakan dari mereka adalah pembina Pramuka yang “jadi” secara ujug-ujug karena tugas dinasnya. Dan bukan karena panggilan jiwanya. Maka revitalisasi itu perlu dilakukan.

B. Kursus Pembina Pramuka hanya sebatas formalitas dan tidak sungguh-sungguh dimaksudkan untuk mencetak tenaga Pembina Gugusdepan yang nantinya benar-benar mahir. Kursus Mahir didahului dengan Kursus Dasar barulah dilaksanakan Kursus Mahir sebanyak 4 Jenjang. Kemudian diperpendek menjadi 3 jenjang. Dan kini dipersingkat lagi menjadi 2 jenjang saja. Alasannya untuk mempercepat penyediaan Pembina Satuan. Konon karena teguran dari WOSM akibat minimnya laporan penyelenggaraan kursus-kursus Pembina dan dorongan nafsu besar tapi tenaga sukarelawan yang terpanggil jiwanya masih sangat kecil. Maka hasilnya? Badut-badut yang tak tahu diri. Maaf. Memang perlunya revitalisasi sejak saat itu sudah sangat mendesak.

C. Bapak Angklung Indonesia, Daeng Sutigna (Alm) ketika mengunjungi perkemahan tingkat provinsi di Linggarjati ngedumel kepada saya bahwa Gerakan Pramuka sampai detik ini sepertinya tidak sungguh-sungguh menciptakan Gugusdepan putri yang baik dan benar. (LT III Jabar 1981?) Apakah ini akan dibiarkan sampai datangnya suatu mu’jizat? Pertanyaan almarhum saat itu sebenarnya sangat serius bagi pandangan pendidikan kepanduan. Sementara kakak-kakak senior yang saya lapori bilang “itu kuno” di Luar Negeri anak-anak maunya pa dan pi jadi satu.

D. Gerakan Pramuka mau dikembangkan sampai ke pelosok-pelosok desa dengan mengangkat Mabisa, Korsa, Mabiran dan mengganti Kortan menjadi Kwarran yang jumlah personilnya pernah ada yang mencapai 44 orang. Petunjuk Penyelenggaraan tentang itu sudah lama dicoba tetapi tidak berjalan sesuai harapan. Banyak orang yang mau diangkat menjadi pengurus Kwarran bahkan seperti memaksakan diri. Tetapi ketika diperlukan tenaganya tak ada yang hadir. Bahkan mengujungi rapat pun absen. Mereka kebanyakan merasa seperti kambing dihalau ke air, ogah. Kondisi seperti ini pun tak baik dipelihara terus. Karena buahnya kelak adalah apathisme dan terciptanya image keliru di lingkungan masyarakat awam yang mengira bahwa kepramukaan itu ya yang seperti waktu mereka bersekolah di SD sampai SLTA. Karena pengalaman mengenyam pendidikan kepramukaan cuma didalam tanda kutip.

E. Unsur-unsur “infiltran” kedalam dunia kepramukaan paling gampang berada di tingkat Ranting karena alasan tiada dana, kesibukan tugas dinas, musim hujan, musim kemarau dan entah apalagi. Kalau sang Ketua Kwarran kebetulan bukan figur pemimpin yang kuat posisi sosialnya dan mudah didikte ditambah beliau itu “orang baru” yang belum paham akan sendi-sendi kepramukaan maka dalam menghadapi tokoh-tokoh formal setempat, jawabnya cuma “sendiko dawuh”. Maka jadilah suatu kondisi dimana tidak lagi dikenal kepatuhan dan kesetiaan terhadap pakem kepramukaan yang hak. Sehingga “Benteng Terakhir Kepramukaan” pun tak ada yang menjaga dan mempertahankannya. Berapa jumlah Kwarran se-Indonesia? Apa modal dasar mereka? Dari mana sumber dana resmi untuk Kwarran? Dan berapa besar kepastian dana yang bisa diakses oleh Kwarran. Dengan kata lain, tugas dan kewajiban Kwarran cukup besar tapi dukungan dana nyaris nol dan tidak cukup dijadikan dasar untuk menyusun program kerja tahunannya.

Maka adalah Kwarcab yang paling dekat hubungannya dengan Kwarran-Kwarran yang ada di wilayah kerjanya yang, jumlahnya bisa mencapai 40 buah Kwarran. Jika Kwarcab tidak berdaya mengelola Kwarran maka Kwarran akan bertingkah semau gue dalam mengelola Gudep-Gudep yang ada. Sementara itu Kwarda ybs tak mungkin peka terhadap kondisi yang ada di kwarran. Maka pada tahun 2002 Kwarnas menyelenggarakan Rapat Kerja Pemberdayaan Kwarcab. Waktu itu banyak utusan Kwarda bertanya-tanya kenapa Kwarnas menangani Kwarcab? Bukankah hal itu menjadi hak dan kewajiban Kwarda ybs? Tapi melihat urgensinya sementara tidak satu Kwardapun melangkah, apa salahnya Kwarnas berinisaitif. Pendapat lain mengatakan yang tidak patut ialah Kwarcab turut campur urusan Kwarnas. Tapi sekedar pendapat atau saran, Kwarcab atau siapapun boleh saja urun rembuk atas dasar cinta dan tanggungjawabnya, baik diminta maupun tidak. Penyelenggaraan Raker Pemberdayaan Kwarcab itu sungguh membuka wawasan dan kesadaran. Jelas suatu ide yang sangat brilian. Tetapi sayang hingga kini belum sempat dipahami dan ditindak lanjuti. Namun dari pada menyelenggarakan Raker seperti itu lagi dan lagi, kiranya lebih efektif jika ditindak lanjuti dengan penyelenggaraan seminar terpusat di suatu tempat atau terpencar dibeberapa tempat untuk menghemat beban biaya para peminat.

F. Pada awal berdirinya perkumpulan kepramukaan di Inggris, 100 tahun yang lalu, adalah penggabungan kata boy dan Scout, menjadi Boyscout. Semua orang sudah tahu arti kata boy. Tetapi hanya sedikit yang tahu arti kata scout. Scout itu tentara. Boyscout itu anak-anak yang bermain meniru tentara dan tetap bukan tentara sungguhan meskipun berpakaian (seragam) dan mengenakan atribut a la tentara disertai aturan permainan yang cukup ketat. Tapi sekali lagi, itu hanya tentara-tentaraan. Bedanya dengan tonil atau sandiwara di atas stage, Boyscout ini pentasnya tergelar siang malam, dimana-mana, dalam penghayatan kehidupan mereka sehari-hari. Semua Boyscout yang sah harus terlebih dahulu dilantik/dikukuhkan setelah terlebih dahulu mengikuti latihan mingguan di Satuan Gudepnya, untuk memiliki kecakapan dasar standar nasional Pramuka Indonesia. Barulah mengucapkan janji (Scout Promise) yang isinya antara lain akan bersungguh – sungguh menjalankan kewajiban dan menepati Dasadarma atau Undang-Undang Pandu di depan Pembinanya. Jika semuanya oke, maka yang terjadi adalah gerakan pendidikan yang kita namakan gerakan kepanduan atau scouting movement. Ini proces oriented, bukan? Ya. Tapi siapa saja yang dimaksud dengan boyscouts. Mereka adalah Pramuka Penggalang thok. Bukan Pramuka Siaga (Cubs) dan bukan pula Pramuka Penegak (Rover). Apalagi Pramuka Pandega yang dari segi usianya sudah kadaluwarsa. Mengapa perihal tersebut tidak pernah dibahas secara terbuka di lingkungan intern kita. Mungkin dikarenakan adanya suatu klausul bersifat saran pada Tap MPRS No.II Tahun 1960 yang mengatakan agar Gerakan Pramuka mengikis Baden Powellisme karena mungkin ada semacam apriori bahwa Baden Powell itu warga negara Inggris yang Pemerintahannya kolonialis dan kapitalis. Padahal konsep pendidikan kepanduan Baden Powell menjamin bahwa “the end of scout training is character”. Sekarang bagaimana menjelaskan perihal ini kepada masyarakat, terutama kepada tokoh-tokoh masyarakat yang sering diminta bantuan serta peran sertanya. Maka itulah salah satu alasan perlunya revitalisasi.

G. Alasan lain akan perlunya revitalisasi

Pada awalnya kita menyatakan keluar dari WOSM dan sempat mengganti lambang kepanduan Indonesia menjadi tunas kelapa yang berlaku bagi semua anggota termasuk Pramuka Siaga. Dan ketika kita menyatakan aktif kembali di lingkungan WOSM maka emblim kepanduan dunia pun segera bertengger di pakaian seragam termasuk pakaian yang dikenakan Pramuka Siaga. Dan sampai kini kedua macam emblim itu sama-sama dikenakan. Aneh tapi nyata. Dan apakah artinya sebuah lambang atau emblim? Maka garis batas antara Siaga dan Penggalang menjadi samar. Lalu ada istilah Penggalang SD dan Penggalang SMP. Lalu ada banyak pelaksanaan latihan mingguan campuran pa dan pi yang materinya terpaksa cuma nyanyi dan tepuk tangan doang. Karena yang cocok dilakukan bagi kedua golongan usia secara bersama-sama ya cuma nyanyi dan tepuk pramuka. Akibatnya bahan ajar (padvinderij leerstoff) yang termuat di Buku Memandu Untuk Putera (Scouting For Boys) tidak pernah diimplementasikan tuntas. Dan bahkan sama sekali tidak disentuh. Karena nggak ada yang memiliki bukunya. Padahal jika pramuka Penggalang kita bisa didorong untuk mempraktekkan isi buku Scouting For Boys hasilnya akan nyata bahwa the end of scout training is character. Bukan cuma sepasukan tapi se Indonesia. Dan itu bekal bagi remaja dan pemuda pramuka ber-PPBN. Jadi perlu hati-hati dan waspada. Karena hanya dengan menggeser pemahaman satu derajat saja, kita tak akan pernah ketemu dengan titik kordinat.

H. Satu lagi hal yang aneh pernah terselip di Anpuda II (baca : Rakernas) Pasar Minggu tahun 1966. Yaitu ketika kita terpacu mimpi hendak menjadi nomor satu di ranah kepanduan dunia. Kita lalu mengubah Dasa Darma dengan susunan kalimat yang tidak selayaknya diucapkan oleh anak ingusan di depan umum seperti layaknya sebuah statemen yang penuh kebohongan : “Kami Pramuka Indonesia bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa”. Dst,dst. Kami Pramuka Indonesia, ya betul. Tapi “bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa”, belum, justru masih dalam proses belajar menjadi insan yang bertakwa. Maka dengan susunan kalimat Dasa Darma seperti itu, rasanya terhapus sudah ciri khas perkumpulan kita sebagai suatu lembaga pendidikan. Tapi syukurlah, sekarang sudah kembali ke relnya. Meski demikian kekeliruan yang pernah kita alami itu tetap sebagai tonggak sejarah dimana kita pernah melupakan jati diri. Maka perlu kiranya kita sarankan agar kita tetap komitmen untuk kembali sepenuhnya ke Scouting Basic seperti tekad Munas 1993 di Jayapura, Papua. Keinginan menjadi yang nomor satu di ranah kepanduan dunia, biarlah kita tunda barang seratus tahun kemudian. Karena itu cuma pepesan kosong.

I. Saya pernah hampir dilempari sepatu saat menyampaikan komentar dan saran perihal dasadarma konyol seperti tsb di atas. Yaitu saat di forum Andacab (sekarang Rakerda) Kwarda Jabar tahun 1976 bertempat di Aula Asrama Haji Kota Cirebon. Untunglah Kwarnas cepat tanggap dan meminta Kwarda Jabar menyampaikan makalah tentang rencana perubahan Dasa Darma yang scouting image dan scouting basic. Dan tentu saja, saya termasuk di dalamnya sebagai anggota Tim. Terima kasih, Kwarda Jabar dan terima kasih Kwarnas atas kepercayaannya.

Sebenarnya masih banyak hal yang ingin saya usili. Tapi saya sudah tak muda lagi dan malu tak seperti Pemimpin Bajak Laut yang meskipun sudah uzur tapi rajin memberi arahan kepada para anggotanya agar sepeninggalnya kelak Bendera Bajak Lautnya tetap berjaya dan menguasai lautan. Padahal Pemimpin Bajak Laut itu tergolong orang yang paling jahat. Tapi tanggung sjawabnya sebagai seorang pemimpin patut diacungi jempol.

J. Sebelum Kak Himawan Sutanto lengser sebagai Ka Kwarnas, saya sempat mengirim tulisan saya berjudul “Hallo, Gugusdepan Gerakan Pramuka” secara pribadi yang oleh beliau diserahkan terimakan kepada Ka Kwarnas penggantinya untuk ditindak lanjuti. Sebetulnya saya ingin menggunakan judul “Quo Vadis Gugusdepan Gerakan Pramuka” tetapi saya ingat pada tahun 1973 menjelang Jamnas I di Situ Baru, Cibubur – Jakarta Timur, entah oleh siapa, di Harian Kompas ada tulisan berjudul “Quo Vadis Gerakan Pramuka”. Dan entah mengapa, ditahun 1999 oleh Pimpinan Kwarnas saya ditunjuk sebagai salah seorang pembicara bersama Bapak Prof. Drs. Koesnadi Hardjasumantri (Alm) dihadapan seluruh Pimpinan Kwarnas, para Annas dan Pb. Annas, para Anggota DKN dan seluruh Staf Kwarnas di Ruang Sarbini Cibubur Jakarta. Saat acara tanya jawab hanya ada 2(dua) orang penanya dan sudah saya jawab baik-baik. Hadirin yang lain hanya diam seribu basa. Lalu ada semacam kesepahaman bahwa Gerakan Pramuka sudah terperosok kedalam kondisi sulit diatur (unmanagable). Bahkan saya -waktu itu- sempat mengingatkan keadaan kinerja VOC (Vereinigde Oost-Indische Companij) menjelang dan saat-saat dinyatakan gulung tikar oleh Pemerintah Kerajaan Belanda pada 31 Desember 1799. Dan hal itu hampir menimpa Gerakan Pramuka diawal Era Reformasi Tahun 1999. Namun pertemuan kali itu mencerminkan bahwa dikalangan para pemimpin Gerakan Pramuka -waktu itu- sudah ada semacam filling bahwa perkumpulan ini harus segera melakukan sesuatu untuk mengantisipasi timbulnya kemungkinan yang bisa mengancam kelangsungan hidup perkumpulan ini. Lebih jauh artinya bahwa Gerakan Pramuka harus segera melakukan reformasi atau revitalisasi atau entah apa lagi. Terlebih ketika pada awal era reformasi ada suara-suara bertenden politis yang mendesak agar Gerakan Pramuka dibubarkan saja. Karena dianggap tidak berhasil berfungsi sebagai alat perekat bangsa. Meski akhirnya banyak anggota yang menyetujui agar Gerakan Pramuka tetap dipertahankan asalkan terus dilakukan perbaikan dan penyesuaian. Dan atas hasil Rapat Dengar Pendapat di Komisi VI DPR-RI, Gerakan Pramuka dan HIPRADA, diminta melakukan pertemuan untuk membahas upaya-upaya mempertahankan kelangsungan hidup Gerakan Pramuka. Segera sesudah itu HIPRADA menggelar pertemuan di Ciater Spa Resort, Ciater, Kabupaten Subang pada tanggal 27 dan 28 Juni 2000 dengan mengundang sesepuh dan tokoh-tokoh organisasi kepanduan dan tokoh-tokoh Gerakan Pramuka. Kepada mereka Hiprada memohon makalah untuk disimak hadirin. Maka terlontarlah aneka komentar, pendapat dan saran serta anjuran yang sangat perlu untuk disimak, disikapi dan ditindak lanjuti.

Kwarnas pun tak mau ketinggalan dengan memanfaatkan moment Peringatan Hari Baden Powell pada tanggal 22 Pebruari 2001 dengan menyelenggarakan pertemuan di Ruang Sarbini Cibubur dan mengundang seabreg tokoh-tokoh Gerakan Pramuka serta para mantan Pandu untuk diskusi kelompok. Hasilnya pun sangat baik untuk disimak. Kedua peristiwa itu adalah pertanda bahwa baik Hipprada maupun Gerakan Pramuka belum sampai pada era terpaksa berpangku tangan sambil mereka-reka pengembangan mercu suar. Terlebih karena sementara hal-hal yang mendasar dan baku dalam sistem kepanduan kita belum terletak pada proporsinya, masih terkontaminasi berat.

Tetapi sayang, Presiden RI Bapak Susilo Bambang Yudoyono keburu berpidato – mungkin berangkat dari hasil pantauan beliau sampai saat ini dengan kesimpulan bahwa saatnya sekarang Gerakan Pramuka harus melakukan revitalisasi. Yang kelak hasil revitalisasi itu pasti akan dipertanyakan.

Pada dasarnya orang sependapat bahwa Gerakan Pramuka sebagai kelanjutan gerakan kepanduan itu telah sangat berjasa. Tetapi sesewaktu toch perlu melakukan check and recheck dan pelurusan. Wadahnya memang ada. Yaitu Munas dan Rakernas. Tapi ketika terjadi Munas, siapa saja peserta Munas yang benar-benar tekun dan serius memikirkan nasib masa depan kita. Banyak di antara mereka justru banyak memanfaatkan kesempatan berwisata dan shopping.

K. Ada fenomena baru (sebenarnya banyak dan sudah berlangsung lama) yaitu suatu Gugusdepan mengundang Gugusdepan lain untuk mengikuti perlombaan yang diselenggarakannya. Ada Gugusdepan yang berpangkalan di suatu SD, ada banyak Gudep yang berpangkalan di SMP, SMA, SMK bahkan Gudep yang bepangkalan di suatu Perguruan Tinggi. Bentuk dan materi lombanya pun beraneka macam. Lomba PBB Tongkat, Lomba PBB Tongkat Variasi, Lomba Cerdas Cermat, dll.

Hadiah yang dijanjikan pun menggiurkan antara lain Trophy dari para Pimpinan Gerakan Pramuka dan Pejabat di Tingkat Propinsi.

Undangannya tersebar bukan hanya se Kabupaten/Kota tapi bahkan lebih dari satu provinsi. Ini apa-apaan? Dan anehnya banyak Gudep yang berminat karena berharap membawa pulang piala atau trophy. Dan bergembiralah Bapak/Ibu Kepala Sekolah. Setelah saya cermati ternyata ada beberapa hal yang ingin mereka raih. Pertama untuk memperoleh keuntungan uang, lumayan untuk membeli tenda. Kedua sebagai pernyataan ketidak puasan atas kinerja Kwarcabnya. Yang ketiga semacam pembuktian kelebihan kemampuan orang-orang yang oleh sesuatu hal tidak termasuk pengurus Kwarcab. Yang keempat, mungkin karena mendapat ijin atau restu dari pimpinan Kwarcabnya.

Perihal ulah Gudep yang menciptakan fenomena ini kami tidak yakin bahwa fenomena macam ini akan berlangsung sukses karena mereka tidak berjalan di atas pakem kepramukaan. Tapi ini suatu pertanda masih adanya “tokoh-tokoh” busuk dalam Gerakan Pramuka dan tokoh-tokoh semacam itulah yang mengarah pada pendapat “sebaiknya Gerakan Pramuka dibubarkan saja” karena tak ada satu bagian pun yang layak diacungi jempol.

Maka upaya Pemberdayaan Kwarcab akan merupakan titik awal terobosan revitalisasi Gerakan Pramuka. Dan itu harus dilakukan oleh masing-masing Kwarcab karena perbedaan kondisi wilayah dan kinerja masing-masing. Sejalan dengan hasil analisa kakak-kakak di Kwarnas bahwa titik krusial perkumpulan ini terletak di Kwarcab-Kwarcab maka jika Kwarcab-Kwarcab tidak berhasil, Gerakan Pramuka secara nasionalpun gagal total. Karena Kwarcab-lah yang secara langsung menghadapi dan membina Gudep-Gudep. Dan hanya Gudep-Gudeplah yang membina dan mengembangkan potensi para anggota muda untuk melaksanakan gerakan pendidikan kepanduan bagi dirinya dengan berpedomankan Satya dan Darma Pramuka. Maka hanya di Gugusdepan terjadi peningkatan mutu dan jumlah anggota. Pada upacara pembukaan Raker Pemberdayaan Kwarcab itu sempat hadir dan ngobrol diluar, bertiga dengan Kak Hardijono (Waka Kwarnas) dan saya, Yth. Kak Hs. Mutahar. Beliau adalah seorang pandu tua, mantan Deputy Camp Chief (DCC) dan Akela Leader Indonesia. Beliau ikut membantu Sri Sultan HB IX membidani lahirnya Gerakan Pramuka di tahun 1961.

Tapi sekarang Kwarcab mana di Indonesia yang merasa dan menyadari bahwa dirinya menempati posisi penting sebagai suatu titik paling krusial yang, turut menentukan kegagalan atau keberhasilan Gerakan Pramuka. Barangkali karena imbas dari pandangan sistem birokrasi dan etika “hubungan atas bawah” sehingga sampai saat ini seperti ada keengganan (apathis) dan tak ada tersirat suatu konsep pemikiran hendak membantu organisasi ini, terutama Kwarcabnya. Kecuali seabreg PP (Petunjuk Penyelenggaraan) yang kemudian justru menggeser keberadaan Pembina Pramuka dari lapangan bermain pindah ke belakang meja untuk menghafal aneka macam PP. Pekerjaan kepramukaan yang konotasinya pengabdian hidmat, riang gembira lama kelamaan menjadi semakin kaku karena terlalu tegang menggunakan mesin kalkulator, tanpa canda, tanpa tawa dan tanpa sempat smile and whistles under all difficulties – nya.

IV. LANGKAH-LANGKAH KONKRIT REVITALISASI

A. Pemahaman arti revitalisasi.

Saya tidak tahu persis arti kata revitalisasi yang sebenarnya. Saya hanya menduga revitalisasi itu artinya pemberdayaan kembali. Dalam hal ini, pemberdayaan kembali kinerja Gerakan Pramuka agar dapat menjalankan tugas dan kewajiban pokoknya sebagai lembaga pendidikan kepanduan. Yang pada gilirannya kelak mampu berfungsi sebagai perekat bangsa. Tapi sayang teks Dasa Darma sekarang tidak mengatakan “Pramuka itu sahabat sesama manusia dan saudara bagi tiap-tiap pramuka” Padahal Constitution and By-Laws-nya WOSM mengakui bahwa A Scout is a Friend to all and a brother to every other scout. Lalu hubungan insani macam apa yang hendak dibangun dan dipelihara oleh Gerakan Pramuka. Bagi pandangan saya bentuk atau susunan kalimat Dasadarma yang berlaku sekarang memang oke. Tapi materinya, sifatnya, posisinya sebagai atribut kebesaran organisasi dan fungsinya sebagai alat pendidikan yang bersifat membantu, mudah dihafal dan dipedomani serta adanya pengembangan dan pendalam kata sejalan dengan usia pramuka penggunanya seperti kurang dipertimbangkan masak-masak. Kesan saya dibuat secara terburu-buru dan asal-asalan saja.

B. Langkah-langkah revitalisasi.

Revitalisasi harus dilakukan selangkah demi selangkah berdasarkan skala prioritas yang ada sambil tetap memperhatikan rencana strategik Panca Karsa Utama. Langkah-langkah yang dilakukan oleh masing-masing Kwarcab mungkin berbeda dan bahkan pasti berbeda karena baik skala prioritasnya, berbeda kondisi geografisnya, berbeda volume dukungan dana dan infrastrukturnya serta jumlah dan kualitas kinerjanya dll. Karena pada dasarnya Kwarcab itu lembaga swadaya dan swasembada. Memang setiap tahun selalu ada bantuan pembiayaan dari Pemkab/Pemkot masing-masing. Besar kecilnya tidak berdasarkan “Undang-Undang Gerakan Pramuka” yang memang belum ada, melainkan berdasarkan Perda setempat.

1. Resep Membuat Bolu. (sekedar ilustrasi)

Dulu orangtua saya mematok aturan yang tak boleh dibantah. Membeli roti tawar hanya di Van Dorp Broodbakerij, di Jl. Karangasem Semarang Barat. Karena sangat baik mutunya, seperti membeli roti tawar langsung ke Nederland. Resepnya jitu. Kalau terigunya sekian, telurnya sekian biji, gula halusnya sekian gram dan sekian gram menteganya. Semuanya pakai takaran yang telah diuji coba dengan cermat. Hasilnya bagus memuaskan. Ketika regu saya membuat roti untir-untir di perkemahan, unsurnya cuma 1 Kg terigu, segelas air dingin dan garam secukupnya, setelah diuleni sampai capai lalu diuntir pada sebatang kayu. Dipanggang diatas api kayu. Hasilnya sangat jauh dibanding buatan Van Dorp. Setelah itu kami mencoba dan mencoba lagi. Hasilnya tetap jelek, tak boleh disebut roti. Itu memang resep dari Baden Powell yang dimaksudkan untuk saat terpaksa ganjal perut ketika melakukan Jungle And Survival Training sekaligus menerapkan azas keprasahajaan hidup. Analog dengan belajar membuat roti, orang harus mau mematuhi resep yang telah diuji coba sejak seratus tahun yang lalu.

2. Ketika Gerakan Pramuka membuka pintu lebar-lebar dengan maksud meraih anggota sebanyak-banyaknya, maka berbondong-bondonglah orang merebut posisi-posisi yang ada. Bahkan seperti dengan sengaja membuat posisi yang asal-asalan. Maka tak terkecuali para “the man on the street” ramai-ramai masuk dan dimasukkan menjadi anggota. Lalu ikut berpidato berapi-api mengajak orang lain mengikuti jejaknya.: “Masuklah menjadi anggota pramuka. Ayo, ayo”. Maka pada tgl. 31 Desember 1992, di Alun-alun Pancasila Sakti TMII, 30 bus orang dewasa laki-laki dan perempuan diharuskan membeli dan mengenakan pakaian seragam Pembina Pramuka untuk menyaksikan tampilan Gelar Senja yang akhirnya dimenangkan oleh Kwarcab Kabupaten Cirebon 3 kali berturut-turut. Padahal para suporter itu sama sekali bukan anggota dewasa dalam Jajaraan Gerakan Pramuka. Malah tergolong orang yang tidak tahu apa-apa tentang kepramukaan. Hal serupa juga sama seperti dialami oleh siswa-siswa yang seminggu sekali diwajibkan mengenakan pakaian seragam pramuka. Bahkan yang menjadi Anggota Pramuka pun banyak yang tidak tahu seputar kepramukaan kita. Maka Gerakan Pramuka sendiri yang justru melanggar azas-azas kepramukaan. Bukankah hal ini yang kelak membuahkan inspirasi perlunya revitalisasi?

3. Ketika jati diri pendidikan kepramukaan semakin tersaingi oleh mimpi ingin

menjadi organisasi massa yang, jumlah anggotanya tidak terbatas, seorang hanya berkedudukan sebagai Kordinator Kecamatan (Kortan) tidaklah cukup mampu, lantas diterbitkan PP tentang Organisasi dan Tata Kerja Kwartir Ranting, karena tuntutan jaman. Tentunya dilandasi asumsi dan harapan akan meledaknya jumlah anggota Gerakan Pramuka dan seperti memiliki “lampu aladin”, Gedung (Sanggar Baktinya) di atas lahan minimal seluas 500 meter persegi, terdiri atas Aula dan Ruang-ruang perkantorannya dengan perlengkapan meubelairnya plus dana pembiayaan rutin dan program kerja tahunannya akan muncul dengan sendirinya, oh tidak. Karena Pemda setempat bukanlah penyandang dana mutlak dan tak dapat diatur oleh mimpinya Gerakan Pramuka. Karena masing-masing Pemkab/Pemkot berpegang erat pada Perda tentang dana dan aturan pembiayaan program pemerintahannya. Apalagi Kwarran itu berkedudukan di Kecamatan yang tak memiliki DPRD Ranting. Dan jika mimpi itu dipaksakan harus terjadi, dan betul-betul terjadi maka fungsi Kwarcab akan sekadar menjadi fasilitator. Dan kalau Kwarran tidak memperoleh kepastian akan tersedianya dana yang rasional maka yang akan muncul kondisi dimana organisasi Gerakan Pramuka menjadi unmanagable.

PP itu tidak memperhitungkan faktor-faktor lain di lapangan sehingga nyaris tak ada suatu institusi yang menamakan diri Kwarran dapat memenuhi petunjuk penyelenggaraan. Anehnya tidak ada langkah check and recheck untuk menguji apakah PP itu memang suatu hasil studi lapangan atau sekadar buah mimpi proyek mercusuar?

Ketika orang memaksakan diri membentuk Kwarran karena ada semacam keharusan, meskipun nyaris tak seorangpun yang berkelayakan memegang predikat Andalan maka kriteria yang digunakan untuk memilih hanya berdasarkan rasa suka dan tidak suka disertai rasa tidak enak kalau sampai tidak mengajak bapak anu atau ibu anu yang biasa vokal. Maka terbentuklah susunan Pengurus Kwarran yang Andalan Rantingnya bisa berjumlah 40 orang. Banyak Pembina Pramuka yang mulai nampak gairahnya “naik pangkat dan jabatannya” menjadi Pengurus Kwarran dan “merasa terbebas dari kewajiban” datang ke tempat latihan mingguan. Karena sang sutradara sudah tak hadir lagi maka permainanpun terhenti pula. Mereka tidak tahu bahwa latihan mingguan jauh lebih penting dari pada sosok sebuah Kwarran. Dan apakah setiap kecamatan harus ada Kwarran?

4. Atribut dan Tanda Jabatan Gerakan Pramuka.

Seorang Pramuka Penegak yang aktif memiliki lebih dari satu “tanda jabatan”. Ia selain sebagai Pradana di Ambalannya, juga menjadi anggota DKC bahkan juga menjadi anggota DKD. Dan ketika tampil di kegiatan Saka, ternyata ia juga seorang pejabat di lingkungan Saka-nya. Dan jangan heran kalau seorang Pramuka Penegak gemar juga merangkap keanggotaan lebih dari satu Saka karena instansi ybs juga dengan sukahati menerimanya. Tetapi banyak Instansi terkait Saka yang nota bene adalah penyandang dana operasional sekaligus sumber materi pelatihan tidak menjalankan fungsinya dengan semestinya sehingga Kwarcab tidak berbuat apa-apa. Lain halnya kalau alokasi dana kesakaan itu ada ditangan Kwarcab. Maka Kwarcab bisa menggalang Saka dengan mengundang Instrutur Saka atas biaya Kwarcab.

Perihal keaneka ragaman atribut memang baik sebagai alat memotivasi. Tetapi kalau hasilnya bukan peningkatan kualitas diri maka jadilah gerakan omong kosong.

TKU dan TKK serta Tetampan pun dibeli dan dikenakan seenaknya. Dalam hal ini Kwarcab tak bisa intervensi urusan intern rumah tangga Gudep karena Gudep itu independen dalam membuat siasat pembinaan personil. Tapi sesungguhnya kita tidak sampai hati melihat tampilan bodoh yang memalukan ketika melihat anak-anak mengenakan atribut berkelas tanpa kesan sesuai dengan kecakapan yang dimilikinya. Pada suatu kesempatan para Pelatih antar Kwarcab berkumpul ada seseorang (saya tahu itu Pelatih) mengenakan kalung panjang seperut yang “rantainya” berupa sehelai Pita Mahir dengan bandul sebuah Lencana Penghargaan Panca Warsa. Dalam hal ini saya tidak mau turut campur urusan rumah tangga orang lain. Lagi pula sedang banyak orang.

5. Dewan Kerja Penegak dan (Pandega?)

a. Dan ada lagi ceritera. Seorang anggota DKD sudah lama tidak lagi sempat berkunjung ke Ambalannya karena bersamaan dengan tamatnya ia belajar di sekolahnya, putus pula hubungannya dengan Ambalannya.

Pernah pula terjadi suatu hari datang seorang Anggota DKD ke Kwarcab akan melakukan supervisi terhadap DKC. Ini sungguh kejadian yang menyinggung perasaan dan gegabah. Ia tidak tahu bahwa di Kwarcab yang ia kunjungi ada “embahnya” pramuka, bahwa DKC itu bukan urusan DKD melainkan urusan rumah tangga Kwarcab. Kwarcab hanya berpegang pada kewajibannya mengirim laporan ke Kwarda dengan tembusan ke Kwarnas.

Bagaimana kalau anggota DKC melakukan supervisi serupa ke DKR di 40 Kwarran. Tahu apa anak ingusan itu berani keluar masuk pangkalan Gudep yang nota bene sebuah SLTA. Sementara tugas sekolah dan kewajiban di Ambalannya harus tetap dijalankan. Hubungan antara DKC dan DKR dalam suatu Kwarcab memang harus akrab tetapi cara-cara supervisi seperti meniru kalangan birokrasi turba (turun kebawah) sungguh tidak etis dan tidak tahu diri. Coba tolong dicermati lagi keberadaan suatu Dewan Kerja Ranting. DKR cuma diperlakukan sebagai tenaga murahan tanpa ada jaminan penghargaan atas kerja keras pengabdiannya. Yah memang struggle for life itu macam-macam bentuknya. Tapi janganlah unit-unit Gerakan Pramuka tidak memandang sahabat dan saudara bagi sesama pramuka.

Ketika terjadi pro dan kontra di suatu Sidang Musda para Pramuka Penegak DKC yang dibawa serta Utusan Kwarcabnya bergerombol diantara sesama mereka dan menyatakan setuju atau kontranya dengan berdiri berteriak-teriak sambil mengacungkan lengannya persis layaknya orang berdemo. Bukankah tugas utama mereka bukan sebagai utusan Kwarcabnya melainkan kesempatan yang diberikan oleh Kwarcabnya untuk menyimak dan belajar cara memimpin organisasi kepramukaan.

Pro ataupun kontra terhadap suatu pendapat semata-mata adalah hak para Ancab yang mereka ikuti.

b. Sebenarnya banyak pilihan yang utama dan lebih positif yaitu agar para Pramuka Penegak matang, akrab dan menjadi organisator Ambalannya sekaligus sebagai penjaga benteng terakhir Gudepnya untuk bertahan hidup lebih lama dan lebih baik lagi.

c. Apakah Kwarnas dan Kwarda perlu membentuk Dewan Kerja? Kalau ya, untuk apa? Apakah tidak lebih baik sebagai pembantu umum saja dan jumlahnya terbatas. Atau adakah SKU yang khusus diperuntukkan bagi para Anggota DKD dan DKN? Menurut pandangan Pembina Pramuka mereka adalah peserta didik yang semestinya bak meniru ilmu padi makin berisi semakin menunduk Tapi kenyataannya tidak demikian. Banyak di antara mereka berlagak seperti di panggung pentas. Apakah the end of scout training masih karakter?

d. Adanya Dewan Kerja itu bagus tapi tepat hanya di Kwarcab. Dengan catatan mereka harus tetap sebagai aktifis di Ambalannya. Dan itu mudah dipantau.

e. Kita tetap ingat bahwa setiap anak adalah idaman keluarga dan memiliki ikatan kuat dengan orangtuanya. Kewajibaan kita adalah membantu dan mengarahkan serta menyalurkannya ke bidang-bidang yang diminatinya. Mau melanjutkan belajar ke Perguruan Tinggi, terjun ke home industri, ingin mendaftar menjadi Anggota TNI atau Polri atau menjadi Guru sambil menjadi Pembina Pramuka itu pilihan yang lebih kongkrit dan lebih mudah mempersiapkannya dari pada ingin menjadi DKD atau DKN.

f. Pramuka Pandega kalau dilihat dari motivasi sejak terbentuknya adalah orang dewasa yang betah berada di Lingkungan Gerakan Pramukaa tetapi tidak sempat bekerja dan berperan sebagai Pembina satuan di Gudep.

Dari poin a. s.d. f. tersebut di atas adalah ceritera buram yang amat mendesak untuk disikapi. Dan itu pekerjaan rumah yang dapat memicu emosionalitas dalam rangka upaya revitalisasi.

6. Apel Besar Pramuka di Tingkat Kwarran.

Apel Besar Pramuka di Tingkat Kwarran dapat memberi gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana pandangan orang-orang terhadap Gerakan Pramuka. Dalam rangka Apel Besar itu diselenggarakan acara berkemah satu malam. Pesertanya terdiri atas Pramuka Siaga putra dan putri, Pramuka Penggalang Putra dan Putri dan Pramuka Penegak Putra dan Putri.

Sementara itu ada seorang Pengurus Kwarran yang datang ke Kwarcab untuk mendapatkan Teks Pidato Ka Kwarnas atau Teks Pidato Presiden RI untuk dibacakan oleh salah seorang Pejabat sebagai Pembina Upacara ditempatnya. Itu artinya Irup tidak peduli sama Pramuka. Kehadirannya cuma sebatas nampang bahkan . Janjinya akan memberikan bantuan akhirnya cuma nol besar. Itulah harga sebuah kecintaan dan pengorbanan. Oleh sebab itu marilah kita berkaca diri supaya dijauhkan dari sikap bergantung.

Malam Api Unggun Jambore Ranting, satu-satunya acaranya adalah nanggap Organ Tunggal dengan beberapa tumpukan pengeras suara besar-besar. Para Pembina pada bejoget. Dan tidak tahu dimana peserta didiknya. Anak-anak, peserta Jambore itupun semua ikut bergoyang ceria.

Di lain Kwarran banyak acara tambahan digelar dalam rangka Apel Besar itu antara lain, Balapan Karung, Tarik Tambang, Lomba Sepeda Hias dll.

Tapi ada juga Kwarran yang hanya menggelar perkemahan semalam. Ketika Pimpinan Kwacab datang di lapangan pukul 10.00 untuk berpartisipasi ternyata tinggal sampah yang berserakan.

Alhasil, Apel Besar Pramuka seperti itu bukan diupayakan sebagai ajang pendidikan tetapi lebih dimaksudkan untuk hal-hal lain. Seperti untuk masuknya iuran ini dan setoran itu secara serentak. Ketika dikonfirmasikan mengapa begitu dan mengapa begitu, jawabnya bahwa itu adalah anjuran berbau perintah dari jajaran penguasa setempat. “Habis, saya kan bawahan beliau. Ya harus loyal, dong”, demikian kira-kira jawabannya.

Maka yang ini juga berbau cuci tangan dari tanggung jawabnya. Bantuan dan sumbangan biar dari “orang lain” saja.

7. Jenjang Kursus Pembina Pramuka Mahir

Pada awalnya kursus Pembina terbagi menjadi Kursus Dasar A, Kursus Dasar B, Kursus Mahir I , Kursus Mahir II, Kursus Mahir III dan Kursus Mahir IV. Sebanyak 6 jenjang tanpa menghitung Kursus Dasar A dan B. Kemudian disingkat menjadi 3 jenjang. Dan kini sudah disingkat lagi tinggal 2 jenjang saja. Yakni KMD dan KML.

Ada kursus yang diselenggarakan secara kredit tiap hari Minggu siang. Konon ada KPD atau KPL yang diselenggarakan cukup 4 hari saja dengan alasan ini atau itu yang muaranya membuat para peserta kursus melemah motivasinya karena melihat adanya aib melekat di tubuh Gerakan Pramuka.

Dilain sisi penyelenggaraan kursus Pembina seperti ada kecenderungan untuk memperpendek waktu. Bukan “ilmunya” yang dikendaki tapi Ijazah atau Sertifikatnya yang amat dibutuhkan untuk melengkapi syarat mendapatkan kredit point. Di sini nampak bahwa kredit poin itu dihapus saja sebab merusak kesukarelaan.

Ada kursus-kursus Pembina yang diikuti hanya karena legalitas tanda jabatan yang ingin dikenakannya untuk menutupi asal kedatangannya dari “dunia the man on the street”. Meskipun pada waktu kursus hanya sempat datang sekali selama beberapa saat, tapi dijamin lulus karena Pinsusnya adalah bawahannya. Artinya ada kursus yang mengiyakan peserta fiktif. Seperti ada anggapan bahwa dengan mengenakan pakaian seragam Pramuka komplit dengan kebesaran atributnya, orang bisa secara sosial naik ke kasta yang lebih tinggi. Yang jelas orang lain bisa terkelabui.

8. Pernah saya kedatangan petugas suatu Lapas mengatakan bahwa dirinya sudah mengikuti Kursus Pembina minta agar dilingkungan kerjanya dibentuk Gugusdepan Pramuka. Lalu saya tanyakan usia kebanyakan para napi di Lapas itu. Tergolong anggota muda atau tergolong anggota dewasa. Setelah saya jelaskan aturan yang ada, dan kemungkinan adanya Jambore Pramuka Napi atau keikut sertaan napi di Raimuna, saya katakan bahwa sekarang belum saatnya dan kemudian Petugas Lapas itu sampai sekarang tidak lagi datang. Tapi dalam suatu kesempatan berjumpa dengan Kepala Lapas tersebut beliau masih mengharapkan kami suatu saat bisa berkunjung ke Lapas itu.

9. Ketika di Buper Cibubur diselenggarakan Lomba Tingkat V, bersamaan dengan itu juga ada Jambore Pramuka Luar Biasa. Saya kebetulan mendapat tugas untuk mendampingi Kontingen Daerah saya. Suatu saat saya sengaja berkunjung ke tempat anak-anak berkemah. Dan ketika saya tanyakan kepada Pembinanya, anak yang tinggi besar itu tergolong pramuka apa dan tingkat apa. Dari jawabannya saya menduga bahwa sudah ada formula SKU khusus untuk Pramuka Luar Biasa atau PP-nya. Tapi sampai kini saya belum melihatnya.

10. Saya pernah diberitahu bahwa peserta Lomba Tingkat itu harus tetap. Artinya tak boleh ada penggantian personil sejak kemenangannya di LT. I hingga ke LT V. Saya kok rada tidak mudheng bahwa syarat itu bisa dipenuhi. Bukankah LT V itu suatu lomba tingkat nasional. Dan penyelenggaraan LT I sampai LT V tidak pernah bisa diselenggarakan secara serentak dalam suatu kurun waktu untuk menjamin keutuhan personil regu berhubung Gerakan Pramuka selalu harus menyesuaikan waktu saat sekolah sedang libur atau sedang sibuk menyelenggarakan Testing atau Ujian Sekolah dan Ujian Negara. Belum lagi saat tibanya bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Maka saya menyampaikan saran agar kata “Tingkat” dihapus saja. Saya ditegur keras dan diingatkan bahwa PP tentang LT itu belum dicabut. Dan diperingatkan jangan bak pepatah buruk muka cermin dibelah. Akhirnya saya maklum bahwa diam itu emas. Dan ketika Bapak Presiden SBY mengajak kita melakukan revitalisasi saya lukiskan sosok presiden kita itu. Beliau itu sepertinya orang yang berperasaan sangat halus. Bicara lembut, tidak mau bicara keras dan kasar tetapi jelas dan pasti. Saya lalu bertanya diri dan meraba makna dan intensitas ajakannya. Apakah ajakan itu juga merupakan tamparan bagi kita. Atau memang ajakan biasa bak angin lalu yang tak perlu ditanggapi secara serius.

Lomba Tingkat kita itu pernah distop karena telah menjadi ajang curang yang aib bagi dunia kepramukaan kita. Tetapi pada tahun 1971 dihidupkan lagi karena Ka Kwarnas yang baru waktu itu (Kak Mashudi Alm) minta dihidupkan lagi karena sesungguhnya makanan pokok pramuka Penggalang itu kegiatan yang bersifat kompetitive. Itu benar. Karena suatu aturan selalu bisa ditambah, dikurangi bahkan bisa dicabut karena keputusan tertulis toch selalu diakhiri dengan pernyataan “jika pada suatu saat ternyata terdapat kekeliruan pada keputusan ini maka akan dilakukan perubahan sebagaimana mestinya”. Bahkan suatu Undang-Undang Dasar Negara sekalipun bisa diamandir dan bermacam-macam Undang-Undang lainnya bisa saja diubah atau dicabut sama sekali.

11. Kwarcab kami juga pernah menyelenggarakan kegiatan yang kami sebut GSDP singkatan dari Gema Satya Darma Pramuka pada tahun 1990 meniru Program Estafet Tunas Kelapa yang saya saksikan sendiri begitu amat gegap gempita oleh Kwarda Jawa Tengah. Tetapi setelah Munas di Jayapura Papua tahun 1993 dengan tekad dan ajakannya kita kembali ke Scouting Basic maka GSDP itu tidak berlanjut karena menjadi ajang hura-hura sambil menghalalkan cara-cara memperbanyak “anggota terselubung” selama pesta sesaat, tanpa memperhitungkan timbulnya dampak yang melemahkan sendi-sendi kepramukaan.

12. Pada suatu Pentaloka Renbut dan Renada di Cibubur Jakarta, saya diminta menjadi salah satu pemapar. Materi yang saya paparkan adalah Gugusdepaan Gerakan Pramuka dan terutama pelaksanaan Sistem Beregu menurut Rolland Philips. Dan mengulas sedikit gambar-gambar yang terpampang di majalah terbitan Kwarnas yang kurang menerapkan metode kepramukaan seperti terpampang gambar lingkaran anak-anak laki dan perempuan sedang upacara, ditengahnya berdiri seorang Pembina Putra. Saya dapat menerima karena alasan mungkin hal itu karena terpaksa saja Tetapi Pimpinan Majalah itu harus selektif dan hati-hati agar jangan ditafsirkan keliru oleh para pembacanya.

Perihal Sistem Beregu Rolland Philips menganjurkan agar Pembina memberikan kepercayaan tidak setengah-tengah kepada para Pemimpin Ragu. Setiap Regu beranggotakan 8 (delapan) orang, menjadi 4 (empat) pasang terdiri atas 2 orang untuk menjalankan tugas secara bergilir. Terutama pada pembagian tugas saat berkemah. Sementara pasangan pertama menyiapkan lahan perkemahan regu, pasangan kedua sibuk di dapur untuk menyiapkan menyiapkan hidangan makan. Pasangan ketiga pergi berjalan-jalan untuk orientasi lingkungan mencari alamat apabila regu membutuhkan sesuatu dan pasangan keempat santai beristirahat untuk menghimpun tenaga untuk pelaksanaan tugas berikutnya dan harus cepat bertindak manakala regu atau pasukannya menghadapi keadaan darurat. Emergency hasil pentaloka renbut dan renada sampai kini belum diimplementasikan secara merata karena satu dan lain hal.

Demikian kiranya cukup banyak hal-hal yang saya sentuh dan saya ulas sekadar meyakinkan perlunya langkah-langkah kongkrit untuk menjaga dan menjamin kelangsungan hidup dan kemajuan Gerakan Pramuka. Dan kita pun tak perlu membela diri sebab kalau boleh disebut kesalahan atau kekeliruan, keadaan yang kita hadapi sekarang ini meskipun salah tetapi kaprah dan walaupun benar tapi tidak lumrah. Dan kondisi seperti sekarang ini adalah hasil estafet kerja bersama yang telah berlangsung lebih dari 40 tahun.

V. LANGKAH-LANGKAH MENUJU REVITALISASI

Tulisan di bawah ini merupakan pengalaman nyata kami. Kami tulis tidak secara kronologis karena tidak sempat membuka-buka file. Hanya hal-hal problematik yang bisa saya ingat luar kepala.

Kwarcab sebagai Pangkal Sistem Administrasi.

Kwarcab sebagai Pangkal Sistem Administrasi dan Pangkal Sistem Operasional kepramukaan untuk wilayah kerjanya perlu memiliki data akurat tentang berbagai aset yang ada di wilayahnya. Meliputi :

1. Data Wilayah Kerja dan Jumlah Gugusdepan

Kwarcab perlu mengetahui keadaan wilayah kerjanya, jumlah Kwarran yang telah terbentuk dan wilayah yang belum ada Pengurus Kwarrannya. Kwarcab juga harus memiliki sistem atau alat untuk mengetahui jumlah anggotanya secara akurat. Jangan sampai ada pernyataan menggelikan bahwa Gerakan Pramuka memiliki anggota sejumlah 25 persen dari jumlah penduduk. Meski jumlah itu hasil dari laporan resmi dari bawah tapi secara kasatmata orang awam pun bisa menduga bahwa jumlah itu nonsense. Maka adalah program sensus tahunan melalui ajauan registrasi atau herregistrasi Gugusdepan dimana tercantum nama dan jumlah anggota Gudepan yang rieel.

2. Iuran Anggota, Registrasi Gudep dan Pengukuhan Gudep terdaftar

Dan bagaimana kemudian perihal kewajiban Gerakan Pramuka membayar iuran kontribusinya ke Biro Kepanduan Dunia, so pasti perlu menarik nafas panjang terlebih dahulu karena hal yang luar biasa dan diperlukan nego dan nego lagi.

Iuran Anggota dilakukan di Satuan-satuan. Hasilnya 100% diterima oleh Satuan/Gudep ybs. Gudep, Kwarran dan Kwarcab tidak memperoleh jatah iuran barang sepeserpun. Tapi setiap melakukan registrasi sekali setahun disertai uang sebesar Rp 50.000,- disetorkan ke Kwarcab. Uang ini dikelola oleh Kwarcab dan akan dikembalikan untuk sehelai Piagam Pengesahan Gugusdepan, Kartu SHB, Biaya Upacara Pengukuhan Gudep setiap awal tahun dan 20 persen dari uang yang terkumpul dibagikan kepada Kwarran-Kwarran definitif. Gudep-Gudep bisa melakukan pendaftaran Registrasi melalui Kwarrannya masing-masing atau langsung datang sendiri ke Kwarcab jika Kwarrannya belum disahkan.

3. Prioritas Pengembangan Peserta Didik

Anak-anak memang gemar bermain. Bukan hanya tiada hari tanpa bermain, bahkan tiada waktu tanpa bermain. Namun bermain dalam sajian kepramukaan bukan asal ramai dan menggembirakan melainkan kegiatan yang tidak terlepas dari Prinsip-prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan. Pertama dan terutama ialah melaksanakaan Sistem Kerukunaan atau Sistem Beregu. Jadi anak-anak harus membentuk Kelompok Tetap yang kemudian kita sebut Regu (Pramuka Penggalang). Untuk sementara kita sisihkan dahulu perhatian dan upaya pengembangan golongan Pramuka Siaga dan Pramuka Penegak sekitar 2 atau 3 tahun. Jika Golongan Pramuka Penggalang sudah berjalan dengan baik, barulah kita menampung mantan Pramuka Penggalang yang berminat masuk golongan Pramuka Penegak yang nota bene kondisinya lebih baik dari pada seorang remaja yang ujug-ujug menjadi Pramuka Penegak tanpa dasar pengalaman memandu apapun. Maka proyek Kwarcab bisa berlanjut dengan menata Ambalan Penegak sambil fokus mengembangkan Perindukan Siaga. Hal itu harus disosialisasikan secara terus menerus sekaligus diberi contoh soal agar para Pembina mengerti, faham dan mau mencoba tanpa kesulitan. Namun sekali lagi, tidak bisa sebanyak-banyaknya anak – diterima menjadi pramuka. Karena setiap Pasukan hanya terdiri atas 4 regu. Dan setiap regu beranggotakan maksimal 8 orang saja. Kalau ada Pembina yang melakukan kesalahan, kata Baden Powell, kalau perlu biarkan mereka berbuat salah. Akhirnya mereka akan tahu juga dan menyesali kekeliruannya.

Kondisi sekarang di Kwarcab kami sudah menghapus prioritas untuk Pramuka Penggalang karena semua golongan sudah berjalan dengan baik.

4. Hak dan kewajiban Gudep resmi (registrated) dan konsekuensi Gudep liar

Arahan Kwarcab seperti tersebut di atas ditujukan hanya kepada Gugusdepan resmi. Yaitu Gugusdepan yang melakukan registrasi atau herregistrasi setiap menjelang awal tahun. Kelompok-kelompok yang tidak mau melakukan registrasi kita beri predikat kelompok illegal, liar atau apalagi dan jika ada hajatan kepramukaan mereka tidak diundang. Dengan menyelenggarakan registrasi dimaksud, setiap akhir Triwulan Pertama Kwarcab sudah memiliki data tentang jumlah Gugusdepan dan Jumlah Anggota dari Wilayah kerjanya. Dan jangan lupa setiap registrasi Kwarcab menerima uang registrasi sebesar Rp50.000,-/Gudep. Jika jika jumlah Gugusdepan mencapai 1200 maka tidak sedikit uang yang masuk dan tidak lupa menyisihkan 20%-nya untuk Kwarran ybs.

5. Penomoran Kwarran dan Gudep dan Jumlah Personil Kwarran

Hasil Pemekaran Kecamatan di Kabupaten kami, kami manfaatkan untuk mengubah nomor urut Kwarran sekaligus tidak memberlakukan nomor-nomor Gudep versi sebelum pemekaran Kecamatan. Nomor urut Kwarran kami susun berdasarkan abjad dari A sampai Z dengan nomor urut dari 01 sampai sejumlah Kwarran yang ada. Perubahan sistem penomoran ini sudah barang tentu mengacak-acak penomoran yang lalu. Nomor Gudep dahulu sering dipandang sebagai bukti legalitas Gudep. Sekarang legalitasnya hanya Piagam Pengesahan Gudep yang setiap tahun berubah. Koleksi Piagam Pengesahan Gudep bisaa dijadikan dasar ajuan TPOD bagi Pembina Ybs dan Bintang Tahunan bagi peserta didik yang tercatat pada lembar ajuan Herregistrasi Gudep.

Nomor yang tertera pada suatu Piagam Pengesahan Gudep pun bisa berubah lagi jika terpaksa diberikan ke Gudep lain karena pemiliknya abai terhadap kewajiban melakukan registrasi ulang.

Personil Kwarran di lingkungan Kwarcab kami hanya terdiri atas 4 (empat) orang. Meskipun namanya tetap Kwarran tetapi tidak berarti suatu institusi semestinya karena kenyataannya mereka belum mampu mandiri. Mereka pada kenyataannya adalah sebagai Kelompok Pembantu Andalan Cabang yang ditempatkan keberadaannya atau ditempat tugas dinasnya.

Kwarran yang hanya 4 orang itu adalah berstatus sebagai Pembantu Kwarcab. Jika mereka menghendaki suatu pertemuan besar, mereka harus terlebih dahulu berkonsultasi ke Kwarcab dan menyusun proposal. Jika dipandang baik, Kwarcab akan menerbitkan surat keputusan untuk menetapkan susunan Panitia Pelaksananya yang terdiri atas Pembina Pramuka yang lebih mumpuni meski berasal dari Kwarran lain. Hal ini dimaksudkan untuk minimalisir kecenderungan langkah-langkah yang hendak berbuat “semau gue”.

6. Kartu Tanda Anggota

Penyebarluasan kepemilikan Kartu Tanda Anggota (KTA) juga bagian dari langkah-langkah revitalisasi, di Kwarcab kami sudah dimulai sejak tahun 1989 yang sampai sekarang masih tetap eksis seperti sediakala dan sekaligus menjadi salah satu sumber pemasukan dana yang tidak sedikit bagi Kwarcab secara lebih mantap. Maka datangnya penawaran kerjasama dari berbagai pihak, setelah dikaji dan ternyata tidak lebih unggul dari sistem yang ada pada kami selama ini, maka penawaran itu pasti kami tolak dengan tegas.

7. Pelantikan Pembina Gudep

Pada awal tahun ini Kwarcab kami telal melakukan Peresmian dan Pengukuhan Gudep dan Pembina Gudep sebanyak 6 (enam) kali secara bertahap karena tiadanya ruangan besar yang dapat memuat lebih dari 1000 orang.

8. Penataran Pengurus Kwarran

Pengurus Kwarran sebagai pembantu Kwarcab harus memiliki visi dan missi yang searah dengan Kwarcabnya. Dan banyak hal lagi yang perlu dibekalkan pada penataran semacam ini. Misalnya tentang surat-menyurat, tentang cara menghadapi Gudep yang memerlukan suatu kejelasan dan terutama untuk membekali mereka agar dapat mengatakan “tidak” karena wewenang akan hal ini ada ditangan Kwarcab dll, dls. Dengan kata lain Penataran Pengurus Kwarran sangat diperlukan sebab pada hakekatnya mereka adalah pekerja lapangan yang harus memiliki pemahaman dan berbekal ketrampilan kerja di bidang pendidikan kepanduan.

9. Dialog Interaktif

Dialog Interaktif adalah pertemuan antara para Ka Mabigus (hampir semuanya Kepala Sekolah), Kepala UPTD Pendidikan, dengan Pimpinan Kwarcab. Dialog Interaktif ini dimaksudkan sebagai ajang untuk mencari saling pengertian baik Kwarcab terhadap situasi dan kondisi dunia persekolahan maupun pihak Kepala Sekolah perihal visi dan missi dunia kepramukaan. Jadi semacam mencari MoU tak tertulis. Dengan dialog Interaktif banyak Kepala Sekolah yang lantas memahami perlunya pendidikan kepanduan bagi para siswanya. Dan banyak yang menjanjikan akan mengirim Pembina untuk mengikuti Karang Pamitran atau KMD.

10. Karang Pamitran

Karang Pamitran biasanya diperuntukkan bagi maksud refreshing bagi para Pembina untuk menghalau kejenuhan. Tapi bisa juga dilakukan bagi orang-orang yang sama sekali baru yang oleh atasan dinasnya dipercaya menjadi Pembina Pramuka dengan biaya yang sangat rendah.

11. Pesta Siaga

Pesta Siaga mewajibkan para orangtua, terutama ibu, terlibat langsung acara ini. Karena Pesta Siaga diawali dengan Karnaval. Dalam karnaval ini para Pramuka Siaga datang sudah mengenakan pakaian Karnaval yang barang tentu memerlukan bantuan ibunya. Acara pertama adalah Karnaval keliling kampung. Sekembalinya ke lapangan para Siaga langsung masuk tendanya masing-masing untuk berganti pakaian seragam Pramuka Siaga dan sekedar makan kudapan yang dibawanya dari rumah masing-masing. Barulah dimulai acara Permainan Pesta Siaga.

Dari acara Pesta Siaga seperti ini banyak hal yang bisa dipetik. Antara lain komunikasi dua arah antara Pembina Pramuka dan para orangtua untuk membangun saling pengertian di antara kedua belah pihak. Pesta Siaga juga dimaksudkan untuk mendorong para Pramuka mengenakan pakaian Siaga dan meninggalkan pakaian asal jadi yang dibeli di pasar dan tidak sesuai dengan ketentuan.

Seperti prioritas pembinaan golongan peserta didik yang kami singgung di atas yakni mengutamakan Golongan Pramuka Penggalang, kini kami merasa sudah waktunya mulai memperhatikan kepada dunia Pramuka Siaga.

12. Gladian Pemimpin Regu

Gladian Pemimpin Regu yang paling efektif dilakukan dilingkungan Pasukannya. Tapi untuk merangsang para Pembina Pasukan menerapkan sistem beregu yang benar Kwarcab harus memberi cotoh konkritnya. Pinru baik dan handal, kiprahnya dapat ikut serta mengembangkan potensi Pasukannya. Maka Kwarcab kami untuk sementara memelopori sebelum para Pembina Pasukan atau Pengurus Kwarran bisa melakukannya secara benar dan mandiri.

13. Gladian Pemimpin Sangga

Maksud dan tujuan Dianpinsat idem dito dengan Dianpinru. Namun bobot dan wawasannya lebih menitik beratkan penyadaran dan latihan kerja nyata untuk bekal “pengembaraannya” sekaligus untuk mencetak kader-kader penerus organisasi Sehingga pada suatu ketika organisasi penjahit anggotanya dan pimpinannya adalah berstatus tailor sungguhan. Organisasi sepak bola dipimpin oleh pelaku sepak bola dan organisasi kepramukaan dipimpin tidak lain oleh pramuka saja.

Jika Ambalan telah menjadi organisasi pramuka Penegak yang dipimpin oleh seorang Pradana serta dibantu oleh para Pemimpin Sangga yang cakap maka tugas utama para Pembina Ambalan akan lebih banyak bersifat tut wuri handayani.

14. Langkah-langkah lain dalam konteks revitalisasi

Langkah-langkah lain selain saran dan yang telah kami lakukan seperti uraian tersebut adalah poin-poin krusial yang jangan sampai terlewatkan. Pekerjaan lain yang mendukung revitalisasi yang sering kami lakukan ialah berdasarkan semangat persahaabatan dan persaudaraan tanpa boleh dikorbankan meski apapun resikonya. Maka kesan sepintas bila ada tamu dari jauh berkunjung bahwa penyelenggaraan Sanggar kami tidak semata-mata semacam kantor dinas. Tetapi suatu lingkungan keluarga dimana setiap anggota memperlakukannya seperti di rumah sendiri. Kalau tak salah konsep seperti ini berawal dari perguruan Taman Siswa “tempo doeloe”

VI. PENUTUP

Sebelum saya menapakkan pena saya, saya sempat merasa rikuh dimana dan bagaimana saya menempatkan diri karena saya tergolong tuan rumah di bumi kepramukaan ini. Tetapi rasanya tak mungkin saya berpangku tangan membiarkan kondisi ini berlarut-larut terjadi. Yang saya khawatirkan ialah jika sampai ada orang luar ikut-ikutan bicara. Pasti sifatnya akan sangat negatif dan mencemooh. Maka andaikata cemoohan itu harus terjadi, biarlah saya pribadi yang dicemoohkan orang. Dan sekali-kali jangan Gerakan Pramuka yang dituding gagal. Karena ibarat orang menempuh perjalanan yang amat jauh, kita ini masih memiliki kesempatan panjang untuk sampai di garis finish. Sebab bagaimanapun juga Gerakan Kepanduan kita sudah sangat berjasa dalam ikut serta mengantar bangsa memasuki jaman merdeka.

Semula tulisan saya ini hanya bermaksud menanggapi ajakan revitalisasi secara singkat-singkat saja. Tetapi suatu pokok bahasan ternyata tidak bisa berdiri sendiri dan harus terkait satu sama lain. Sehingga tulisan ini menjadi kajian yang panjang lebar. Tetapi saya bukan ahli pikir dan bukan pula orang yang cedik cendekia. Maka cara saya menyampaikan buah pikir saya amat jauh dari sempurna. Untuk itu saya mohon maklum dan mohon maaf yang sebesar-besarnya. Tulisan ini hanya terdorong oleh keinginan hendak ikut serta memajukan Gerakan Pramuka secara aktif dan kreatif serta kecintaan saya terhadap Gerakan Pramuka sejak masa kepanduan dulu.

Maka jika ada sesuatu yang kurang berkenan atas sebagian atau seluruh paparan yang saya sampaikan ini, sekali lagi saya mohon maaf. Dan atas perhatian dan/atau

tegur sapa akan saya terima dengan segala kerendahan hati demi kemajuan kita bersama. Terima kasih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s